Jelang Pembangunan Monumen Bahasa, Sarasehan Doktor KAHMI Kepri Dorong Penguatan Riset

KEPRINESIA 30 Jun 2026 12:22 3 min read 22 views By Azwardi
Jelang Pembangunan Monumen Bahasa, Sarasehan Doktor KAHMI Kepri Dorong Penguatan Riset
Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Provinsi Kepulauan Riau Dr. Suryadi bersama Founder dan Executive Director Raja Ali Haji Research Network Dr. Hos Arie Sibarani.

​Koran Bintan.com | TANJUNGPINANG — Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) akan menggelar Sarasehan Doktor dengan mengangkat isu strategis pembangunan kebudayaan Melayu.

Salah satu topik utama yang akan dibahas adalah pentingnya menyeimbangkan pembangunan Monumen Bahasa di Pulau Penyengat dengan penguatan riset, penelitian, dan publikasi ilmiah.

"Pembangunan Monumen Bahasa merupakan langkah strategis dalam memperkuat identitas Kepri sebagai tanah kelahiran bahasa Indonesia," kata Ketua KAHMI Kepri Dr. Suryadi, Selasa (30/6/2026).

Baca juga : Raja Ali Haji Layak Masuk Diskursus Hukum Internasional

Pembangunan fisik kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) ini harus diiringi dengan pembangunan ekosistem ilmu pengetahuan.

KAHMI tambah Suryadi, mendukung pembangunan Monumen Bahasa sebagai simbol penghormatan terhadap jasa-jasa dan perjuangan Raja Ali Haji serta Pulau Penyengat. Namun, pembangunan kebudayaan tidak boleh berhenti pada bangunan fisik semata.

"Harus ada investasi yang berkelanjutan untuk riset, penelitian, dan publikasi ilmiah agar warisan intelektual Raja Ali Haji terus hidup dan berkembang," ujar Suryadi yang juga Ketua Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Kepri ini.

Senada dengan itu, Founder dan Executive Director Raja Ali Haji Research Network Dr. Hos Arie Sibarani, menilai pembangunan Monumen Bahasa akan memiliki dampak yang lebih besar apabila diikuti dengan kebijakan yang mendukung lahirnya penelitian dan publikasi ilmiah secara berkelanjutan.

Menurut Bendahara Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Kepri ini, Raja Ali Haji bukan hanya tokoh sejarah atau pahlawan bahasa Indonesia saja. Pahlawan Nasional ini dikenal sebagai seorang pemikir besar yang gagasan-gagasannya masih sangat relevan untuk dikaji dalam bidang bahasa, sastra, hukum, pemerintahan, etika, hingga konstitusionalisme.

​"Monumen adalah simbol penghormatan, tetapi riset adalah cara untuk menghidupkan warisan intelektual," tegas Doktor Ilmu Syariah dari UIN STS Jambi ini. 

Dr. Hos Arie mengingatkan, jangan sampai kita menghabiskan anggaran lebih dari seratus miliar rupiah hanya untuk membangun monumen saja.  Sementara dukungan terhadap penelitian, publikasi ilmiah, penerjemahan karya Raja Ali Haji, dan pengembangan pusat kajian masih sangat terbatas.

"Investasi pada ilmu pengetahuan akan memberikan manfaat yang jauh lebih panjang dibandingkan investasi pada bangunan semata," ucap pria yang lahir dan besar di Jakarta ini. 

Seraya mengakhir, Dr. Hos Arie  mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi Kepri agar mengalokasikan anggaran khusus untuk, hibah penelitian, publikasi di jurnal nasional dan internasional, digitalisasi manuskrip Melayu, penerjemahan karya Raja Ali Haji ke berbagai bahasa dunia, dan penyelenggaraan konferensi-konferensi ilmiah internasional secara rutin.

Baca juga : Akademisi Bangga Kapolda Kepri Lestarikan Adat Melayu Makan Berhidang

​Menurutnya, langkah tersebut akan memperkuat posisi Pulau Penyengat bukan hanya sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai pusat kajian dunia Melayu dan pemikiran Raja Ali Haji yang diakui secara internasional.

"Peradaban besar tidak hanya dikenang melalui monumen yang megah, tetapi juga melalui gagasan yang terus diteliti, ditulis, dan diajarkan kepada dunia," pungkas Ketua Bidang Hukum Himpunan Pengusaha Kahmi (HIPKA) Kepri ini.(azw)

Chat with us on WhatsApp