Menjaga Lisan

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu dengan lainnya. Dari subuh ke subuh dari Maghrib ke maghrib kita tidak bisa lepas dari orang lain. Dalam konteks inilah Islam mengajarkan kepada umat manusia untuk selalu berhati-hati dalam berucap yang dalam istilah religius lebih dikenal menjaga lisan.
Secara tegas QS. Al-Isra ayat 23 mengajarkan agar kita selalu berucap dengan kalimat yang mulia (qaulan karima), melengkapi ayat tersebut, QS. Al-Ahzab ayat 70 mengajarkan bagi kita agar selalu bertakwa kepada Allah dan berkata benar dan tepat sasaran (qaulan sadida).
Di samping itu Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah menegaskan bahwa tolok ukur iman seseorang kepada Allah dan hari akhir di antaranya adalah berkata baik atau lebih baik diam.
Dalam kehidupan keseharian kita dituntut oleh agama untuk selalu menjaga lisan kita kepada siapa pun, dalam artian kalimat yang terucap semestinya selalu ditimbang dampak positif negatifnya terhadap orang lain.
Tidak berhenti di sini, agama juga menghendaki agar kita tetap bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepada kita baik hati, lisan, dan aktualisasi dengan perbuatan. Atas dasar itulah; keluh kesah, sikap meremehkan karunia yang ada pada diri kita, dan ucapan-ucapan kontra produkti lainnya semaksimal mungkin dihindarkan.
Singkatnya, ucapan lisan adalah ekspresi kualitas hati dan cerminan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Nasrum minallah wa fathun qarib.***
