Di Lampung, Jokowi Diberi Gelar Adat Baginda Pemuka Bangsa
Koran Bintan.com | LAMPUNG — Hari kedua safari politik di Provinsi Lampung, Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) melakukan lawatan ke Kota Bandar Lampung. Selama di kota itu, Jokowi dianugerahi gelar adat oleh warga Lampung Pepadun, Minggu (28/6/2026).
Pelaksanaan pemberian adat ini berlangsung di Rumah Adat Kedatun Keagungan di Kota Bandar Lampung. Adapun gelar adat yang diberikan kepada Jokowi adalah Baginda Pemuka Bangsa.
Proses pemberian gelar adat kepada Jokowi dimulai dengan Musyawarah Keluarga (Nuwang), Nguruk Di Way atau prosesi sakral pengambilan air suci. Tak hanya itu, ada juga Cakak Pepadun, yakni ritual sakral menaiki singgasana.
Saat berada diatas podium, Jokowi melakukan Mesol Kibau, ritual khas adat Lampung Pepadun. Proses ini merupakan salah satu tahapan dalam upacara adat Cakak Pepadun, sebagai penanda pengukuhan seseorang sebagai pemangku kedudukan tertinggi dalam struktur adat.
Mendapatkan kehormatan tersebut, Jokowi menyampaikan ucapan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada pemangku adat, masyarakat adat dan seluruh masyarakat Lampung.
"Atas nama pribadi dan atas nama pemerintah, saya menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yang Mulia Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 beserta seluruh jajaran perangkat adat," kata Jokowi.
Tokoh adat Lampung Pepadun Suttan Seghayo Dipuncak Nur, Mawardi Harirama, meminta masyarakat tidak mengaitkan prosesi adat tersebut dengan kepentingan politik.
Mawardi menjelaskan prosesi menginjak kepala kerbau merupakan bagian dari rangkaian adat Begawi Cakak Pepadun atau Munggah Bumi yang telah diwariskan turun-temurun. Ritual itu memiliki makna filosofis sebagai simbol menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia.
"Menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau untuk menghilangkan sifat-sifat binatang dalam diri, seperti sifat sombong, iri dengki, tamak, dan sifat buruk lainnya. Jadi tidak ada hubungan dengan politik," kata Mawardi.
Menurut Mawardi, tradisi meletakkan jari kaki di atas kepala kerbau bukanlah bentuk penghinaan terhadap hewan, melainkan simbol adat yang telah dijalankan secara turun-temurun dalam prosesi pemberian gelar.
Mawardi juga menepis anggapan yang mengaitkan dominasi warna merah di lokasi prosesi dengan kelompok politik tertentu. Menurutnya, warna tersebut memang menjadi bagian dari ornamen di Kedatun Keagungan.
"Memang di Kedatun Keagungan karpetnya merah semua. Lihat di tangga, di jalan menuju museum, semuanya karpet merah. Jadi bukan ditujukan kepada kelompok tertentu," tandasnya.(han)